Journal's Info

Jurnal Ilmiah Islam Futura

Publisher :
UIN Ar-Raniry

Akreditasi :
-

Website :
BATAS USIA NAFKAH ANAK BERDASARKAN MAQASID AL-SYARI‘AH
Marwan, -

UIN Ar-Raniry

Abstract

The stipulation of the age limit of child’s livelihood based on to the number of year is important to do, because standard of age maturity (not child authonomy) that has been used can lead to the harm to the child who has been in age maturity but she or he is not authonomous yet. On the other hand, the lack of independent age limit can be burden to the parents, because granting a living become limitless. The age limit is not available through the texts of the Shari‘a, therefore, it should be studied by using uṣūl al-fiqh approach (maqāṣid al-syarī‘ah). This study use mixed method; deductive and inductive. The findings were analyzed by using istiṣlāḥiyyah reasoning patterns. Based on this study, it was concluded that the limit of liability of parents for their children is until the child reaches the age of 23 years. Because at the age of 22 years, children in Indonesia generally have completed undergraduate. So at least it takes a year to prepare for finding a job to pay for his life before actually independent living. In addition, there are companies in Indonesia generally limits the prospective new employee at the age of 25 years. Keywords: Child’s livelihoods ; The age limit ; Maqāṣid al-syarī‘ah Penetapan batas usia nafkah anak dengan bilangan tahun penting dilakukan, sebab standar balig (bukan kemandirian) yang selama ini digunakan dapat menimbulkan kemudaratan bagi anak yang sudah balig tapi belum mandiri dalam hidupnya. Di sisi lain, tidak adanya batas usia mandiri juga dapat menimbulkan mudarat bagi orang tua, sebab pemberian nafkah menjadi tidak berbatas. Batas usia ini tidak ditetapkan melalui nas syariat, oleh karena itu harus dikaji dengan pendekatan usūl al-fiqh (maqāsid al-syari‘ah). Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode gabungan yang mengintegrasikan metode deduktif dan induktif. Selanjutnya analisis dilakukan dengan pola penalaran istiṣlāḥiyyah. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa batas kewajiban nafkah orangtua terhadap anaknya adalah sampai usia anak mencapai 23 tahun. Karena pada usia 22 tahun, anak-anak di Indonesia umumnya telah menyelesaikan strata satu. Maka setidaknya diperlukan waktu satu tahun untuk persiapan mencari pekerjaan guna membiayai hidupnya sebelum benar-benar hidup mandiri. Selain itu, perusahaan-perusahaan yang terdapat di Indonesia umumnya membatasi calon karyawan barunya pada usia 25 tahun. Kata kunci: Nafkah anak; Batas usia; Maqāsid Al-Syari‘ah إنّ تقرير الحدّ الأدنى لسنّ الأطفال الذين يعيشون هو أمر مهمّ ، لأن مقدار سنّ البلوغ المستخدم يمكن أن يسبب الضرار للأطفال البالغين الذين لم يكونوا مستقلّين فى امر النفقة. ومن ناحية أخرى، فإن غياب الحد الأدنى للسن المستقل يمكن أيضا أن يسبب الأذى للوالدين لتوفير المعيشة حتى يصبح لا حدود لها. فكان الحد الأدنى للسن المستقل غير مقرر فى نص الشريعة، ولذلك يجب تقييمه من جهة الأصول الفقهيةِ اى المقاصد الشرعية. فكانت هذه الدراسة تستخدم الطريقة التكاملىية على المنهج الاستنباطي والاستقرائي. و اما طريقة تحليل البحث المستخدمة هى الطريقة الإستصلاحيّة. وبناءا على مابحث الباحث كان الوالدان الذان يعيشان مع أطفالهم فلهما المسؤلية لنفقاتهم حتى يبلغ سنهم 23 عاما. لأن كما العدة بإندونسيا كان الأطفال في سن 22 عاما قد تمت دراستهم فى الجامعة. فعلى الأقل هم يحتاجون سنة واحدة لإيجاد الوظيفة لدفع معيشته حتى تكون حياته مستقلة تامة. وبالإضافة إلى ذلك، كانت الشركات في اندونيسيا تقرّر سن 25 لمن يريدون ان يكونوا موظفين. الكلمات الرئيسية: امر النفقة ؛الحدّ الأدنى لسنّ الأطفال ؛ المقاصد الشرعية

Jurnal Ilmiah Islam Futura, Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Islam Futura, Islam Futura, Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Islam Futura, 2407-7542, , 1412-1190, , 2014
Rights

Copyright (c) 2014 Jurnal Ilmiah Islam Futura

View Original Download Full Text