MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman

View Archive Info
 
 
Field Value
 
##plugins.schemas.marc.fields.title.name## ACEH IN HISTORY: Preserving Traditions and Embracing Modernity
 
##plugins.schemas.marc.fields.creator.name## Hadi, Amirul; Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry
 
##plugins.schemas.marc.fields.description.name## Abstrak: Aceh dalam Sejarah: Mempertahankan Tradisi dan Mengawal Modernitas. Tulisan ini berupaya mendiskusikan secara kritis tentang bagaimana masyarakat Aceh dalam sejarah, sementara mencoba menyesuaikan diri dengan dunia modern, mereka melakukan segala upaya untuk mempertahankan tradisi. Sebagai sebuah etnik yang memiliki masa lalu yang gemilang, Aceh senantiasa memiliki keterikatan kuat dengan “identitas”, dan hal ini dituangkan dalam banyak hal, termasuk “ingatan sosial.” Untuk itu, “tradisi”, digali dan dipertahankan. Namun, tantangan modernitas juga merupakan hal yang harus direspon dan disikapi. Dalam konteks inilah kelihatannya masyarakat Aceh berada di persimpangan jalan. Di satu pihak mereka berupaya mempertahankan tradisi yang telah ada namun juga harus melibatkan diri dalam kehidupan modern. Penulis menyimpulkan bahwa masyarakat Aceh masih menemukan kesulitan dalam hal ini, karena mereka masih terpaku kepada “romantisasi sejarah”, bukan “kesadaran sejarah”, sehingga “ruh” masa lalu belum mampu dibawa ke masa kini.Abstract: This paper attempts to critically discuss on how the Acehnese in history, while trying to embrace the modern world, have made every effort at preserving their traditions. As an ethnic group which has a glorious past, Aceh has strongly been connected to “identity”; and this is expressed in various means, including “social memory.” For this very reason, “traditions”, including those of the past, are explored and preserved. Yet, the challenges of modernity are also apparent. It is in this context that the Acehnese are trapped at the crossroad. On the one hand, they tend to preserve their traditions, yet, on the other, they need to embrace modern lives. The Acehnese seem to have encountered considerable obstacles on this issue, for they tend to focus more on historical “romanticism” (nostalgia) rather than historical “awareness” (consciousness). Eventually, the “spirit” of the past cannot be brought into light.Keywords: Aceh, history, traditions, modernity
 
##plugins.schemas.marc.fields.publisher.name## State Islamic University North Sumatra
 
##plugins.schemas.marc.fields.contributor.name##
 
##plugins.schemas.marc.fields.date.name## 2016-04-14
 
##plugins.schemas.marc.fields.type.name## info:eu-repo/semantics/article
info:eu-repo/semantics/publishedVersion
Peer-reviewed Article
 
##plugins.schemas.marc.fields.format.name## application/pdf
 
##plugins.schemas.marc.fields.identifier.name## http://jurnalmiqotojs.uinsu.ac.id/index.php/jurnalmiqot/article/view/92
 
##plugins.schemas.marc.fields.source.name## MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman; Vol 37, No 2 (2013)
2502-3616
0852-0720
 
##plugins.schemas.marc.fields.language.name## eng
 
##plugins.schemas.marc.fields.relation.name## http://jurnalmiqotojs.uinsu.ac.id/index.php/jurnalmiqot/article/view/92/75
 
##plugins.schemas.marc.fields.rights.name## Copyright (c) 2016 Miqot Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman