Journal's Info

Substantia

Publisher :
Substantia

Akreditasi :
-

Website :
Ayer Dan Kritik Logical-Positivism: Studi Metafisika Ketuhanan
Amin, Husna

Substantia

Abstract

Abstract:  Intellect as perception never falls to be perceived mind without losing a large part of its substantial real during the perception. Intellect in itself has potential to evade from any attempt to perceive things objectively. Its ability to comprehensively explain subject is illogical because human’ capacity determines discourses that reveal rejection to it such as science, which is making attempt to deeply penetrate the field of religious and theological discourses. When human could not understand the intellect in them, so how could human understand the higher state than human consciousness in the hierarchy of existence?    Being in the highest state, God undeservedly goes down to the realm of human knowledge. In the other words, God understands human, but human could not expect to understand God. At the same time, in the middle of the faith wave, human acknowledge that God is an indefinite mystery and is not reality that human intellect could perceive and understand. This article explores the positivism logic of Alfred Ayer and his critic to metaphysic of God. Abstrak: Siapapun manusia akan merasakan betapa sulitnya mendapatkan suatu pegangan yang kuat, baik terhadap hakikat diri sendiri maupun atas Realitas Ilahi. Sebab, dalam setiap usaha pencerapan akal budi pada dirinya sendiri, akal budi yang sama akan melakukan pencerapan yang sama. Namun, akal budi sebagai pencerapan tidak pernah dapat tergelincir ke wilayah pikiran sebagai yang tercerap tanpa kehilangan sebahagian besar dari substansinya yang riil dalam proses pencerapan. Akal budi pada dirinya sendiri juga dapat mengelak dari segala usaha untuk mencerap segala sesuatu secara objektif. Akal budi yang dapat menjelaskan secara menyeluruh adalah sesuatu yang tidak mungkin secara logis, karena manusia dengan kemampuan daya pikir yang dimiliki dapat mempertimbangkan segala jenis wacana yang menyatakan keberatan terhadapnya, semisal sains yang ingin memasuki lebih jauh dalam wilayah agama dan teologi. Pertanyaan, jika manusia tidak bisa memahami akal budi pada dirinya sendiri, bagaimana manusia dapat memahami sesuatu yang lebih tinggi dari kesadaran manusia dalam hirarkhi keberadaan? Menempati level yang paling tinggi, Tuhan tidak dapat masuk dalam yurisdiksi pengetahuan manusia. Dengan kata lain, Tuhan memahami manusia, tetapi manusia tidak dapat berharap untuk dapat memahami Tuhan. Pada saat yang sama juga, manusia ditengah-tengah rasa keimanan mengakui bahwa Tuhan tetap merupakan misteri tanpa batas dan bukan realitas yang dapat dipahami serta dikuasai oleh intelektual manusia. Tulisan ini ingin menelusuri jejak pemikiran Positivisme logis Alfred Ayer dan kritiknya terhadap metafisika ketuhanan.. Keywords:  Critic, Logic and Positivism.

Substantia, Vol 17, No 1 (2015), 2356-1955, , 1211-4976, , 2015
Rights

Copyright (c) 2015 Substantia

View Original Download Full Text